Timer

Rabu, Maret 31, 2010

Perlukah Menghukum Anak


Memberikan hukuman bagi anak biasanya dilakukan orangtua untuk memberi rasa jera kepada anak. Padahal, hukuman ini belum tentu membuat anak jera. Lantas bagaimana cara bijak mengatasi kenakalan anak?

Banyak jenis pola asuh yang dilakukan oleh orangtua terhadap anaknya. Misalnya saja pola asuh dalam memberikan hukuman yang memiliki tujuan yang berbeda-beda. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah pola asuh tanpa hukuman akan lebih baik daripada dengan hukuman? Apakah hukuman dilakukan sebagai jalan pintas karena orangtua dan pendidik tidak memiliki waktu luang yang cukup untuk memahami lebih jauh penyebab anak berperilaku di luar batas wajar atau normal? Atau karena sudah merupakan kebiasaan bahwa hukuman merupakan bagian dari mendidik anak?

Itu pula yang dirasakan oleh Wiwied Basuki, 30. Dia merasa sedih karena siang itu dirinya mendapat kabar dari guru bahwa putrinya, Kaisa Evinda, 11, melakukan tindakan yang tidak menyenangkan di sekolah. Padahal, putrinya adalah anak yang cerdas. Dia sangat berbakat bermain musik dan olahraga. Mendengar laporan guru Kaisa, tentu saja membuat Wiwied Basuki kaget. Kaisa yang masih duduk di bangku SD kelas 6 melakukan bully terhadap teman sekelasnya. Memang Kaisa tidak melakukannya sendirian, dia hanya sebagai pendukung dari temannya yang sangat dia segani.

Untuk pertama kalinya pula, Wiwied datang ke sekolah karena dipanggil oleh guru dan kepala sekolah Kaisa. Merasa masalahnya berat, Wiwied pun memutuskan untuk berkonsultasi dengan konsultan yang menangani masalah orangtua dan anak.

Wiwied mencari solusi bagaimana cara terbaik untuk menangani Kaisa, dengan muka sedih dan kesal Wiwed menyampaikan masalahnya. Karena selain Kaisa sudah mulai bertindak yang tidak wajar, putrinya itu juga sudah mulai berbohong.

”Saya bingung, hukuman apa lagi yang harus diberikan kepada Kaisa karena beberapa bulan lalu dia melakukan kesalahan, hukumannya adalah saya mengambil BlackBerry Kaisa, dan beberapa bulan lalu ada juga kesalahan Kaisa dan kemudian laptopnya sudah diambil sebagai hukuman,” tandasnya kepada sang konsultan saat itu.

Hukuman satu diberikan, hukuman berikutnya menyusul, dan itu tidak mengubah perilaku Kaisa yang sangat baik di rumah, namun di sekolah dia menunjukkan perilaku yang kontradiksi.

Dikatakan oleh praktisi Emotional Intelligence Parenting dari Radani Emotional Intellegence Parenting Center Hanny Muchtar Darta, Certified EI, PSYCH-K, SET bahwa hukuman saja tidak membuat anak mampu untuk melakukan perubahan positif dan ternyata ada faktor lainnya yang harus diaplikasikan. ”Penelitian menyebutkan bahwa hanya 2 dari 10 anak tahan terhadap keadaan negatif dan 8 dari 10 anak akan mengalami dampak negatif pada perkembangannya kelak,” tutur praktisi lulusan pendidikan di Emotional Intelligence Six Seconds USA tahun 2004 dan 2005.

Hanny mengatakan, yang perlu dipahami jika mengasuh anak dengan pendekatan bebas dari hukuman adalah pendekatan yang lebih baik dengan prinsip. Di antaranya adalah mengasuh anak bebas dari hukuman bukan berarti membebaskan anak sepenuhnya dari perilaku yang belum sesuai dengan harapan.

Selain itu, mengasuh anak bebas dari hukuman adalah mendorong anak dalam suasana yang positif dan penuh dukungan. Di mana anak yang memilih konsekuensi dari tindakan yang telah dilakukannya sehingga anak dapat mengambil pelajaran dan berusaha untuk melakukan perubahan di kemudian harinya.


Dan mengasuh anak bebas dari hukuman adalah mengajarkan anak bahwa anak dapat berperilaku baik apabila orangtua mengajarkan disiplin dengan cara ”kind and firm” atau ”tetap baik dan tegas. ”Namun, tidak bisa juga dikatakan bahwa setelah anak melakukan kesalahan, kita harus menerima begitu saja, yang juga bisa dikatakan sebagai pola asuh yang permisif.

”Ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan di luar hukuman atau kontrol orangtua yang berlebihan dan pola asuh permisif,” ungkap Hanny yang juga menjabat sebagai ketua dari Radani Edutainment dan El Center yaitu lembaga yang fokus pada kegiatan yang menstimulasi kecerdasan dan kesehatan anak dan keluarga.

Hanny menyarankan, beberapa pilihan lain adalah dengan melakukan pendekatan di antaranya adalah mendengarkan anak dengan empati atau ”reflective listening”, melakukan tanya jawab dengan menggunakan ”apa, kenapa, dan bagaimana”, serta melakukan brainstorming bersama anak untuk mencari solusi terbaik.

”Reflective listening atau mendengarkan secara aktif dan empati ditujukan untuk mendengarkan tanpa memperbaiki perasaan anak atau mencari solusi untuk anak,” jelasnya. Validasi atau pahami perasaan anak dengan merefleksikan kembali apa yang anak sampaikan sampai dia merasa dipahami dengan baik oleh orangtua.

Sumber : Okezone.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management